Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan, yaitu :
A. Faktor intern (factor dari dalam diri anak itu sendiri ) yang meliputi:
1). Faktor fisiologi
Faktor fisiologi adalah factor fisik dari anak itu sendiri. seorang anak yang sedang sakit, tentunya akan mengalami kelemahan secara fisik, sehingga proses menerima pelajaran, memahami pelajaran menjadi tidak sempurna. Selain sakit factor fisiologis yang perlu kita perhatikan karena dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah cacat tubuh, yang dapat kita bagi lagi menjadi cacat tubuh yang ringan seperti kurang pendengaran, kurang penglihatan, serta gangguan gerak, serta cacat tubuh yang tetap (serius) seperti buta, tuli, bisu, dan lain sebagainya.
2). Faktor psikologis
Faktor psikologis adalah berbagai hal yang berkenaan dengan berbagai perilaku yang ada dibutuhkan dalam belajar. Sebagaimana kita ketahui bahwa belajar tentunya memerlukan sebuah kesiapan, ketenangan, rasa aman. Selain itu yang juga termasuk dalam factor psikoogis ini adalah intelligensi yang dimiliki oleh anak. Anak yang memiliki IQ cerdas (110 – 140), atu genius (lebih dari 140) memiliki potensi untuk memahami pelajaran dengan cepat. Sedangkan anak-anak yang tergolong sedang (90 – 110) tentunya tidak terlalu mengalami masalah walaupun juga pencapaiannya tidak terlalu tinggi. Sedangkan anak yang memiliki IQ dibawah 90 ataubahkan dibawah 60 tentunya memiliki potensi mengalami kesulitan dalam masalah belajar. Untuk itu, maka orang tua, serta guru perlu mengetahui tingkat IQ yang dimiliki anak atau anak didiknya. Selain IQ factor psikologis yang dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah bakat, minat, motivasi, kondisi kesehatan mental anak, dan juga tipe anak dalam belajar.
B. Factor ekstern (factor dari luar anak) meliputi ;
1). Faktor-faktor sosial
Yaitu faktor-faktor seperti cara mendidik anak oleh orang tua mereka di rumah. Anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian yang cukup tentunya akan berbeda dengan anak-anak yang cukup mendapatkan perhatian, atau anak yang terlalu diberikan perhatian. Selain itu juga bagimana hubungan orang tua dengan anak, apakah harmonis, atau jarang bertemu, atau bahkan terpisah. Hal ini tentunya juga memberikan pengaruh pada kebiasaan belajar anak.
2). Faktor-faktor non- sosial
Faktor-faktor non-sosial yang dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah factor guru di sekolah, kemudian alat-alat pembelajaran, kondisi tempat belajar, serta kurikulum.
sumber : http://www.iapw.info/home/index.php?option=com_content&view=article&id=141:mengatasi-kesulitan-belajar-pada-anak&catid=32:ragam&Itemid=45
Jumat, 28 Mei 2010
Jenis Kesulitan Belajar
Jenis kesulitan belajar ini dapat dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu sebagai berikut :
Dilihat dari jenis kesulitan belajar :
ada yang berat
ada yang sedang
Dilihat dari bidang studi yang dipelajari :
ada yang sebagian bidang studi yang dipelajari, dan
ada yang keseluruhan bidang studi.
Dilihat dari sifat kesulitannya :
ada yang sifatnya permanen / menetap, dan
ada yang sifatnya hanya sementara
Dilihat dari segi factor penyebabnya :
ada yang Karena factor intelligensi, dan
ada yang karena factor bukan intelligensi
sumber : http://www.iapw.info/home/index.php?option=com_content&view=article&id=141:mengatasi-kesulitan-belajar-pada-anak&catid=32:ragam&Itemid=45
Dilihat dari jenis kesulitan belajar :
ada yang berat
ada yang sedang
Dilihat dari bidang studi yang dipelajari :
ada yang sebagian bidang studi yang dipelajari, dan
ada yang keseluruhan bidang studi.
Dilihat dari sifat kesulitannya :
ada yang sifatnya permanen / menetap, dan
ada yang sifatnya hanya sementara
Dilihat dari segi factor penyebabnya :
ada yang Karena factor intelligensi, dan
ada yang karena factor bukan intelligensi
sumber : http://www.iapw.info/home/index.php?option=com_content&view=article&id=141:mengatasi-kesulitan-belajar-pada-anak&catid=32:ragam&Itemid=45
Kesulitan Belajar pada Anak
Aktifitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat, terkadang semangatnya tinggi, tetapi juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Demikian kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktifitas belajar. Setiap individu memang tidak ada yang sama. perbedaan individu ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku dikalangan anak didik. “dalam keadaan di mana anak didik / siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan kesulitan belajar. Kesulitan belajar merupakan kekurangan yang tidak nampak secara lahiriah. Ketidak mampuan dalam belajar tidak dapat dikenali dalam wujud fisik yang berbeda dengan orang yang tidak mengalami masalah kesulitan belajar. Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena factor intelligensi yang rendah (kelaianan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan karena faktor lain di luar intelligensi. Dengan demikian, IQ yang tingi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi proses belajar yang ditandai hambatan-hambatan tertentu dalam mencapai hasil belajar.
sumber : http://www.iapw.info/home/index.php?option=com_content&view=article&id=141:mengatasi-kesulitan-belajar-pada-anak&catid=32:ragam&Itemid=45
sumber : http://www.iapw.info/home/index.php?option=com_content&view=article&id=141:mengatasi-kesulitan-belajar-pada-anak&catid=32:ragam&Itemid=45
Selasa, 11 Mei 2010
Karakteristik anak TK
1. Perkembangan motorik
Berarti perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkoordinasi. Perkembangan motorik terbagi dua yaitu motorik halus dan motorik kasar. Motorik kasar merupakan gerakan yang terjadi karena adanya koordinasi otot-otot besar, seperti ; berjalan, melompat, berlari, melempar dan menaiki. Motorik halus berkaitan dengan gerakan yang menggunakan otot halus, seperti ; menggambar, menggunting, melipat kertas, meronce, dan lain sebagainya.
Ciri khas perkembangan motorik anak TK adalah :
memiliki kemampuan motorik yang bersifat kompleks, yaitu mampu mengkombinasikan gerakan motorik dengan seimbang. Keterampilan koordinasi motorik kasar terbagi atas tiga kelompok yaitu keterampilan lokomotorik (berlari, melompat, menderap, meluncur, berguling, berhenti, berjalan setelah berhenti sejenak, menjatuhkan diri, dan mengelak), keterampilan nonlokomotorik (menggerakan anggota tubuh dengan posisi tubuh diam ditempat, berayun, berbelok, mengangkat, bergoyang, merentang, memeluk, melengkung, memutar dan mendorong), dan keterampilan memproyeksi, menangkap dan menerima (dapat dilihat pada waktu anak menangkap bola, menggiring bola, melempar bola, menendang bola, melambungkan bola, memukul dan menarik).
Anak memiliki motivasi instrinsik sehingga tidak mau berhenti melakukan aktivitas fisik baik yang melibatkan gerakan motorik halus maupun motorik kasar.
2. Perkembangan kognitif
Berarti proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan syaraf pada waktu manusia sedang berpikir, berkembang secara bertahap sejalan dengan perkembangan fisik dan syaraf-syaraf yang berada di pusat susunan syaraf.
Ciri khas perkembangan kognitif anak TK adalah :
Anak sudah mampu menggambarkan objek yang secara fisik tidak hadir, seperti anak mampu menyusun balok kecil untuk membangun rumah-rumahan, menggambar, dll.
Anak tidak mampu memahami prespektif atau cara berpikir orang lain (egosentris), seperti ketika menggambar anak menunjukkan gambar ikan dari sudut pengamatannya.
Anak belum mampu berpikir kritis tentang apa yang ada dibalik suatu kejadian, seperti anak tidak mampu menjawab alasan mengapa menyusun balok seperti ini dll.
3. Perkembangan bahasa
Bahasa sebagai alat komunikasi tidak hanya berupa bicara, dapat diwujudkan dengan tanda isyarat tangan atau anggota tubuh lainnya yang memiliki aturan sendiri.
Ciri khas perkembangan bahasa anak TK adalah
Terjadi perkembangan yang cepat dalam kemampuan bahasa anak. Anak dapat menggunakan kalimat dengan baik dan benar.
Telah menguasai 90% dari fonem (satuan bunyi terkecil yang membedakan kata seperti kemampuan untuk merangkaikan bunyi yang didengarnya menjadi satu kata yang mengandung arti contohnya i, b, u menjadi ibu) dan sintaksis (tata bahasa, misal saya memberi makan ikan” bukan ”ikan saya makan beri”) bahasa yang digunakan.
Dapat berpartisipasi dalam suatu percakapan. Anak sudah dapat mendengarkan orang lain berbicara dan menanggapi pembicaraan tersebut.
Sudah dapat mengucapkan lebih dari 2.500 kosakata.
Lingkup kosakata yang dapat diucapkan anak menyangkut; warna, ukuran, bentuk, rasa, bau, keindahan, kecepatan, suhu, perbedaan, perbandingan, jarak, permukaan (kasar-halus)
Mampu menjadi pendengar yang baik.
Percakapan yang dilakukan telah menyangkut berbagai komentar terhadap apa yang dilakukan oleh dirinya sendiri dan orang lain, serta apa yang dilihatnya.
Sudah dapat melakukan ekspresi diri, menulis, membaca bahkan berpuisi.
4. Perkembangan psikososial
Merupakan perkembangan yang membahas tentang perkembangan kepribadian manusia, khususnya yang berkaitan dengan emosi, motivasi dan perkembangan kepribadian.
Ciri khas perkembangan psikososial anak TK adalah
Sudah dapat mengontrol perilakunya sendiri.
Sudah dapat merasakan kelucuan (misalnya, ikut tertawa ketika orang dewasa tertawa atau ada hal-hal yang lucu).
Rasa takut dan cemas mulai berkembang, dan hal ini akan berlangsung sampai usia 5 tahun.
Keinginan untuk berdusta mulai muncul, akan tetapi anak takut untuk melakukannya.
Perasaan humor berkembang lebih lanjut.
Sudah dapat mempelajari mana yang benar dan yang salah.
Sudah dapat menengkan diri
Pada usia 6 tahun anak akan menjadi sangat asertif, sering berperilaku seperti boss (atasan), medominasi situasi, akan tetapi dapat menerima nasihat.
Sering bertengkar tetapi cepat berbaikan kembali.
Anak sudah dapat menunjukkan sikap marah.
Sudah dapat membedakan yang benar dan yang tidak benar, dan sudah dapat menerima peraturan dan disiplin.
sumber :http://marthachristianti.wordpress.com/2008/03/11/permasalahan-anak-di-taman-kanak-kanak/
Berarti perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkoordinasi. Perkembangan motorik terbagi dua yaitu motorik halus dan motorik kasar. Motorik kasar merupakan gerakan yang terjadi karena adanya koordinasi otot-otot besar, seperti ; berjalan, melompat, berlari, melempar dan menaiki. Motorik halus berkaitan dengan gerakan yang menggunakan otot halus, seperti ; menggambar, menggunting, melipat kertas, meronce, dan lain sebagainya.
Ciri khas perkembangan motorik anak TK adalah :
memiliki kemampuan motorik yang bersifat kompleks, yaitu mampu mengkombinasikan gerakan motorik dengan seimbang. Keterampilan koordinasi motorik kasar terbagi atas tiga kelompok yaitu keterampilan lokomotorik (berlari, melompat, menderap, meluncur, berguling, berhenti, berjalan setelah berhenti sejenak, menjatuhkan diri, dan mengelak), keterampilan nonlokomotorik (menggerakan anggota tubuh dengan posisi tubuh diam ditempat, berayun, berbelok, mengangkat, bergoyang, merentang, memeluk, melengkung, memutar dan mendorong), dan keterampilan memproyeksi, menangkap dan menerima (dapat dilihat pada waktu anak menangkap bola, menggiring bola, melempar bola, menendang bola, melambungkan bola, memukul dan menarik).
Anak memiliki motivasi instrinsik sehingga tidak mau berhenti melakukan aktivitas fisik baik yang melibatkan gerakan motorik halus maupun motorik kasar.
2. Perkembangan kognitif
Berarti proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan syaraf pada waktu manusia sedang berpikir, berkembang secara bertahap sejalan dengan perkembangan fisik dan syaraf-syaraf yang berada di pusat susunan syaraf.
Ciri khas perkembangan kognitif anak TK adalah :
Anak sudah mampu menggambarkan objek yang secara fisik tidak hadir, seperti anak mampu menyusun balok kecil untuk membangun rumah-rumahan, menggambar, dll.
Anak tidak mampu memahami prespektif atau cara berpikir orang lain (egosentris), seperti ketika menggambar anak menunjukkan gambar ikan dari sudut pengamatannya.
Anak belum mampu berpikir kritis tentang apa yang ada dibalik suatu kejadian, seperti anak tidak mampu menjawab alasan mengapa menyusun balok seperti ini dll.
3. Perkembangan bahasa
Bahasa sebagai alat komunikasi tidak hanya berupa bicara, dapat diwujudkan dengan tanda isyarat tangan atau anggota tubuh lainnya yang memiliki aturan sendiri.
Ciri khas perkembangan bahasa anak TK adalah
Terjadi perkembangan yang cepat dalam kemampuan bahasa anak. Anak dapat menggunakan kalimat dengan baik dan benar.
Telah menguasai 90% dari fonem (satuan bunyi terkecil yang membedakan kata seperti kemampuan untuk merangkaikan bunyi yang didengarnya menjadi satu kata yang mengandung arti contohnya i, b, u menjadi ibu) dan sintaksis (tata bahasa, misal saya memberi makan ikan” bukan ”ikan saya makan beri”) bahasa yang digunakan.
Dapat berpartisipasi dalam suatu percakapan. Anak sudah dapat mendengarkan orang lain berbicara dan menanggapi pembicaraan tersebut.
Sudah dapat mengucapkan lebih dari 2.500 kosakata.
Lingkup kosakata yang dapat diucapkan anak menyangkut; warna, ukuran, bentuk, rasa, bau, keindahan, kecepatan, suhu, perbedaan, perbandingan, jarak, permukaan (kasar-halus)
Mampu menjadi pendengar yang baik.
Percakapan yang dilakukan telah menyangkut berbagai komentar terhadap apa yang dilakukan oleh dirinya sendiri dan orang lain, serta apa yang dilihatnya.
Sudah dapat melakukan ekspresi diri, menulis, membaca bahkan berpuisi.
4. Perkembangan psikososial
Merupakan perkembangan yang membahas tentang perkembangan kepribadian manusia, khususnya yang berkaitan dengan emosi, motivasi dan perkembangan kepribadian.
Ciri khas perkembangan psikososial anak TK adalah
Sudah dapat mengontrol perilakunya sendiri.
Sudah dapat merasakan kelucuan (misalnya, ikut tertawa ketika orang dewasa tertawa atau ada hal-hal yang lucu).
Rasa takut dan cemas mulai berkembang, dan hal ini akan berlangsung sampai usia 5 tahun.
Keinginan untuk berdusta mulai muncul, akan tetapi anak takut untuk melakukannya.
Perasaan humor berkembang lebih lanjut.
Sudah dapat mempelajari mana yang benar dan yang salah.
Sudah dapat menengkan diri
Pada usia 6 tahun anak akan menjadi sangat asertif, sering berperilaku seperti boss (atasan), medominasi situasi, akan tetapi dapat menerima nasihat.
Sering bertengkar tetapi cepat berbaikan kembali.
Anak sudah dapat menunjukkan sikap marah.
Sudah dapat membedakan yang benar dan yang tidak benar, dan sudah dapat menerima peraturan dan disiplin.
sumber :http://marthachristianti.wordpress.com/2008/03/11/permasalahan-anak-di-taman-kanak-kanak/
PERMASALAHAN ANAK DI TAMAN KANAK-KANAK
Anak bermasalah usia TK 4-6 tahun yang memiliki perilaku non normatif (perilaku) dilihat dari tingkat perkembangannya, atau mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri baik pada waktu belajar (konsentrasi) maupun dalam aktivitas bermain di sekolah atau di rumah (sosial).
Untuk mengetahui apakah anak bermasalah atau tidak, pendidik (orang tua, guru, orang dewasa disekitar anak) perlu memahami tahapan perkembangan anak dalam segala aspek. Pemahaman tersebut dapat membantu menganalisis dan mengelompokkan anak pada kategori bermasalah atau tidak.
sumber : http://marthachristianti.wordpress.com/2008/03/11/permasalahan-anak-di-taman-kanak-kanak/
Untuk mengetahui apakah anak bermasalah atau tidak, pendidik (orang tua, guru, orang dewasa disekitar anak) perlu memahami tahapan perkembangan anak dalam segala aspek. Pemahaman tersebut dapat membantu menganalisis dan mengelompokkan anak pada kategori bermasalah atau tidak.
sumber : http://marthachristianti.wordpress.com/2008/03/11/permasalahan-anak-di-taman-kanak-kanak/
Faktor yang terjadi kekerasan terhadap anak adalah :
1. Anak yang mengalami cacat tubuh, retardasi mental, gangguan tingkah laku dan autisme
2. Kemiskinan keluarga dan banyak anak
3. Broken home atau keluarga pecah
4. Ketiadaan ibu dalam jangka panjang / keluarga tanpa ayah
5. Pengulangan sejarah kekerasan
Faktor-faktor yang menyebabkan perkembangan psikologi abnormal seperti sakit jiwa atau keterbelakangan mental dapat diketahui dengan melihat bagaimana ibu dalam membentuk karakter anak-anaknya. Dan yang paling penting dalam menentukan perkembangan psikologinya adalah hereditas dan lingkungan. Dan tidak menutup kemungkinan perilaku dan sikap seorang ibu akan mempengaruhi perkembangan psikologi anak seperti ibu melakukan kekerasan pada anak-anaknya yang sering terjadi akhir –akhir ini. Yang hal itu akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan psikologi anak.
Untuk menghindari hal tersebut diatas adalah seorang ibu harus tahu setiap perkembangan psikologi anak mulai usia 0 – 5 tahun. Seorang ibu juga harus memantau dan membimbing perkembangannya kearah yang positif. Seorang ibu harus ekstra hati-hati dalam bersikap karena pada uia 0 – 5 tahun adalah masa-masa meniru apapun yang dilihatnya.
sumber : http://ayurai.wordpress.com/2009/04/22/tingkat-pengetahuan-ibu-tentang-perkembangan-psikologi-anak-usia-0-%E2%80%93-5-tahun/
2. Kemiskinan keluarga dan banyak anak
3. Broken home atau keluarga pecah
4. Ketiadaan ibu dalam jangka panjang / keluarga tanpa ayah
5. Pengulangan sejarah kekerasan
Faktor-faktor yang menyebabkan perkembangan psikologi abnormal seperti sakit jiwa atau keterbelakangan mental dapat diketahui dengan melihat bagaimana ibu dalam membentuk karakter anak-anaknya. Dan yang paling penting dalam menentukan perkembangan psikologinya adalah hereditas dan lingkungan. Dan tidak menutup kemungkinan perilaku dan sikap seorang ibu akan mempengaruhi perkembangan psikologi anak seperti ibu melakukan kekerasan pada anak-anaknya yang sering terjadi akhir –akhir ini. Yang hal itu akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan psikologi anak.
Untuk menghindari hal tersebut diatas adalah seorang ibu harus tahu setiap perkembangan psikologi anak mulai usia 0 – 5 tahun. Seorang ibu juga harus memantau dan membimbing perkembangannya kearah yang positif. Seorang ibu harus ekstra hati-hati dalam bersikap karena pada uia 0 – 5 tahun adalah masa-masa meniru apapun yang dilihatnya.
sumber : http://ayurai.wordpress.com/2009/04/22/tingkat-pengetahuan-ibu-tentang-perkembangan-psikologi-anak-usia-0-%E2%80%93-5-tahun/
tingkat pengetahuan ibu tentang perkembangan psikologi anak usia 0 – 5 tahun
Posted on April 22, 2009 by ayurai
Pada masa balita pertumbuhan dan perkembangan anak terjadi sangat cepat. Setiap perkembangan anak harus dipantau setiap hari karena akan sangat menentukan kualitas kehidupan anak pada masa depan. Para ibu harus mengetahui tentang pengetahuan perkembangan anak, ini merpakan unsure utama untuk pertumbuhan anak agar anak dapat tumbuh berkembang secara optimal. Dengan adanya pantauan dan bimbingan dari ibu maka akan mempengaruhi permbangan psikologi anak. Sehingga penulis ingin meneliti studi tingkat pengetahuan ibu tentang perkembangan psikologi anak usia 0 – 5 tahun.
Menurut data internet dengan http/www.kompas.com/tgl. 5 Juli 2007 di LPA (Lembaga Perlindungan Anak) Jatim ditemukan 547 kasus kekerasan pada anak seperti kekerasan seksual, fisik, psikis, dll dengan 9,1% pelaku tindakan kekerasan adalah ayah kandung, 7,4% adalah ibu kandung dan 1,3% adalah kakek korban. Kasus yang terjadi di atas biasanya karena kepentingan keluarga dan kekerasan adalah bagian dari instrumen untuk mendidik anak agar tidak nakal dan cepat mandiri. Stigma tentang anak yang nakal dan sulit diatur adalah dasar pembenar yang sering kali dikemukakan pelaku. Di berbagai keluarga, harus diakui bahwa tidak selalu yang namanya kelahiran anak selalu disambut dengan penuh suka cita.
sumber : http://ayurai.wordpress.com/2009/04/22/tingkat-pengetahuan-ibu-tentang-perkembangan-psikologi-anak-usia-0-%E2%80%93-5-tahun/
Pada masa balita pertumbuhan dan perkembangan anak terjadi sangat cepat. Setiap perkembangan anak harus dipantau setiap hari karena akan sangat menentukan kualitas kehidupan anak pada masa depan. Para ibu harus mengetahui tentang pengetahuan perkembangan anak, ini merpakan unsure utama untuk pertumbuhan anak agar anak dapat tumbuh berkembang secara optimal. Dengan adanya pantauan dan bimbingan dari ibu maka akan mempengaruhi permbangan psikologi anak. Sehingga penulis ingin meneliti studi tingkat pengetahuan ibu tentang perkembangan psikologi anak usia 0 – 5 tahun.
Menurut data internet dengan http/www.kompas.com/tgl. 5 Juli 2007 di LPA (Lembaga Perlindungan Anak) Jatim ditemukan 547 kasus kekerasan pada anak seperti kekerasan seksual, fisik, psikis, dll dengan 9,1% pelaku tindakan kekerasan adalah ayah kandung, 7,4% adalah ibu kandung dan 1,3% adalah kakek korban. Kasus yang terjadi di atas biasanya karena kepentingan keluarga dan kekerasan adalah bagian dari instrumen untuk mendidik anak agar tidak nakal dan cepat mandiri. Stigma tentang anak yang nakal dan sulit diatur adalah dasar pembenar yang sering kali dikemukakan pelaku. Di berbagai keluarga, harus diakui bahwa tidak selalu yang namanya kelahiran anak selalu disambut dengan penuh suka cita.
sumber : http://ayurai.wordpress.com/2009/04/22/tingkat-pengetahuan-ibu-tentang-perkembangan-psikologi-anak-usia-0-%E2%80%93-5-tahun/
Langganan:
Postingan (Atom)
